Mengenal Criminal Profiling dari K-Drama Signal



Akhir-akhir ini aku suka banget Drama Korea, selain alur ceritanya yang bagus dan menarik. Yang paling menarik buat aku adalah drama Korea sering mendeskripsikan secara detail  karakter tokoh dan pekerjaan atau profesi tokoh utama dalam drama tersebut. Kali ini, aku akan me-review K-Drama Signal, dimana tokoh utamanya berprofesi sebagai Detektif.

Untuk diketahui bahwa drama ini adalah sebuah drama remake dari film hit Bong Joon Ho di tahun 2003, 'The Memories of Murder'. Yang terinspirasi dari kasus nyata 'Pembunuhan berantai Hwaseong' yang terjadi pada tahun 1980-an. Pembunuhan ini merenggut nyawa sebanyak 10 orang perempuan
mulai nenek usia 71 tahun dan usia anak sekolahan 13 tahun yang menjadi korban pemerkosa dan pembunuh yang tidak pernah tertangkan, kurang lebih hampir sama kayak Jack The Ripper yaaa? Drama ini menceritakan detektif masa sekarang yang bernama Park Hae young  (tahun 2015) dan seorang detektif dari masa lalu Lee Jae Han  (sekitar tahun 90-an), mereka berkomunikasi melalui walkie talkie untuk memecahkan kasus yang sudah lama tidak terpecahkan. Contohnya ya seperti 'Pembunuhan Berantai Hwaseong' tersebut. Mungkin di awal menonton drama ini kita akan sedikit bingung karena memiliki alur campuran antara masa sekarang dan masa lalu. Menurut aku K-Drama ini benar-benar keren (Daebak) karena mempunyai alur cerita yang bagus dan karakter tokoh yang kuat.
Tokoh utama drama ini adalah Park Hae Young, seorang criminal profiler dari Kepolisian Korea Selatan yang bertugas memecahkan kasus dingin atau kasus lama yang belum terungkap. Park Hae Young awalnya adalah detektif yang cukup pandai dan cermat dalam menyelidiki skandal artis, dia bahkan bisa mendeduksi artis mana yang pacaran, dengan siapa mereka berpacaran dan dimana mereka akan ketemuan. Hingga akhirnya Park Hae Young tanpa sengaja menemukan walkie talkie dan seseorang mengirim transmisi kepadanya. Rupanya orang tersebut adalah detektif Lee Jae Han yang berasal dari masa lalu. Akhirnya mereka berdua berkomunikasi melalui walkie talkie tersebut dan mengungkap kasus-kasus yang sulit terpecahkan.

Sebelum mengenal apa yang disebut Criminal profiling, mari kita simak cerita di salah satu episode dalam K-Drama ini.

Diawal episode, Park Hae Yong memecahkan kasus penculikan anak perempuan  yang terjadi 15 tahun yang lalu. Anak korban peculikan tersebut ditemukan tewas, Dari hasil penyelidikan, pelaku adalah Seo Hyung Joon seorang mahasiswa kedokteran. Hal tersebut dikarenakan dalam penyelidikan kasus penculikan tersebut ditemukan sidik jari Seo Hyung Joon pada surat pemerasan, meski hanya sidik jari jempol kanannya saja. Selain itu, dari data transaksi kartu kreditnya, polisi mendapati bahwa tersangka Seo Hyung Joon banyak membeli barang-barang wanita. Dari hasil penyelidikan ditemukan fakta baru, bahwa Seo Hyung Joon sedang bermasalah dengan pacarnya. Setelah 15 tahun, Seo Hyung Joon ditemukan telah tewas, kerangka tubuhnya ditemukan di lubang belakang Rumah Sakit Jiwa Seonil. Pelaku diduga melakukan bunuh diri dengan menggantung dirinya dilubang tersebut. Setelah diteliti oleh ahli forensik, jempol mayat itu sepertinya diputus dengan sesuatu yang sangat tajam seperti pisau bedah. Setelah kejadian tersebut maka perlahan benang merah kasus tersebut mulai terungkap. Park Hae Young mendeskripsikan si pelaku penculikan dan pembunuhan sebagai berikut:

Pertama, pelaku sebenarnya bukanlah Seo Hyung Joon, karena sidik jari sebelumnya hanya jempol kanannya saja, sedangkan mayat Seo Hyung Joon ditemukan jari jempolnya menghilang. Penculik sebenarnyalah yang telah membunuh Seo Hyung Joon dan memotong jempolnya dan menggunakannya untuk meninggalkan sidik jari.
Kedua, Dari data terakhir transaksi kredit Seo Hyung Joon berisi pembelian barang-barang wanita. kemungkinan pelakunya adalah wanita.
Ketiga, jempol tersebut dipotong oleh pisau bedah. Orang yang lihai dan pandai menggunakan pisau bedah adalah dokter atau suster.
Keempat, Pelaku adalah pegawai rumah sakit Seonil, karena mayat ditemukan ditempat yang hanya karyawan rumah sakit diperbolehkan masuk.
Kelima, berdasarkan penggunaan kartu kredit Seo Hyung Joon , menunjukan bahwa kartu kredit itu digunakan untuk membeli barang-barang wanita usia 20 tahunan. Jika 15 tahun yang lalu dia berusia 20 tahunan, berarti sekarang usianya pertengahan 30 tahunan.
Keenam, berdasarkan data kartu kredit Seo Hyung Joon yang digunakan si pelaku, dapat disimpulkan bahwa si pelaku gila belanja dan tipe orang narsistik, suka belanja di toko-toko yang menjual barang-barang bermerk ternama yang menjual barang-barang limited edition. Si pembunuh selalu memilih barang-barang berwarna cerah dengan design unik dan selalu mengikuti tren. Si pembunuh tak pernah lupa membawa cermin kemana-mana demi memperhatikan penampilannya.
Ketujuh, si pembunuh merupakan orang yang berani, cerdas dan akan melakukan segala upaya untuk melindungi dirinya.

Dari cuplikan K-Drama tersebut dapat disimpulkan apa yang disebut Criminal profiler

Criminal profiling atau Offender profiling adalah salah satu jenis pendekatan dalam penyelidikan kasus kejahatan. Tujuan dari criminal profiling bukan untuk menyimpulkan dengan pasti siapa sebenarnya  pelaku kejahatan, tapi untuk menyempitkan kemungkinan tersangka dengan cara membuat sebuah deskripsi mengenai ciri-ciri kepribadian dan perilaku si pelaku. Dalam criminal profiling tidak mengenal istilah pelaku atau tersangka, melainkan unsub atau unknown subject. Dalam drama Signal hal tersebut terlihat pada saat Park Hae Young mengungkap pelaku penculikan dan pembunuhan. Dimana ia hanya mendeskripsikan mengenai ciri-ciri kepribadian dan perilaku si penculik dan si pembunuh . Park Hae Young tidak menyimpulkan dengan pasti siapa pelakunya.



Tujuan Criminal profiling
  1. Untuk menyediakan penilaian psikologis dan sosial mengenai si unsub. Ini dilakukan baik saat pelaku masih berstatus unsub hingga pelaku sudah tertangkap. Hal tersebut dapat kita lihat saat Park Hae Young menyebut bahwa si pelaku mempunyai kepribadian narsistik. Bisa dibilang, ini adalah laporan lengkap mengenai si pelaku hingga mendetail yang dibuat sepanjang penyelidikan.
  2. Menyediakan evaluasi psikologis dari benda-benda milik si unsub, tadi kita mengetahui bahwa Park Hae Young  mendeskripsikan kepribadian si pelaku dari benda-benda milkik si pelaku . Evaluasi ini didasarkan pada-tentu saja barang-barang bukti yang ada di TKP, korban, rumah pelaku dan sebagainya. Dan evaluasi ini bukan hanya tentang mendata barang apa saja yang dimiliki pelaku atau bukti apa saja yang ada, tapi juga mengenai bagaimana kondisi benda tersebut, dimana si pelaku biasa menyimpannya, apakah benda tersebut wajar atau tidak dimiliki oleh pelaku, apakah ada perbedaan perlakuan terhadap benda tersebut dulu dan sekarang, dan lain-lain. 
  3. Untuk menyediakan dan memberikan saran serta strategi untuk mewawancari si pelaku, atau dalam istilah hukum, menginterogasi si pelaku. Ini sangat berguna bila menghadapi pelaku dengan kemungkinan psikopati dan manipulatif. Nah ini juga ada dalam K-drama Signal, dimana si pelaku penculikan dan pembunuhan pintar memanipulatif pada saat diinterogasi. Jadi ini adalah adu strategi antara si pelaku dan orang yang menginterogasinya, dimana si pelaku berusaha untuk mengendalikan situasi dan tetap tenang sementara pihak yang menginterogasi berusaha untuk bagaimana caranya menciptakan situasi dimana dia bisa menarik setiap informasi penting mengenai kejahatan tersebut. 
Pendekatan Penyelidikan Dalama Criminal Profiling
  1. Pendekatan Geografis, dalam pendekatan ini, criminal profiling menganalisa mengenai pola pergerakan si pelaku, seperti lokasi dan waktu terjadinya kejahatan. Korban dalam drama ini ditemukan belakang rumah sakit jiwa Seonil. Jadi, si pelaku adalah pegawai rumah sakit tersebut, karena hanya karyawan rumah sakitlah yang diperbolehkan masuk.
  2. Pendekatan Psikologis, Pendekatan yang ini fokus pada penggunaan teori psikologi untuk menentukan karakteristik si pelaku dengan melihat pada perilaku penyerangan dan gayanya dan kemudian melihat apakah orang-orang tertentu secara psikologis dapat melakukannya atau tidak. Analisa dari pendekatan ini biasa diambil dari luka-luka pada korban dan keadaan TKP. Ini super ribet karena pendekatan ini melingkupi semua hal yang berkaitan dengan pelaku, seperti cara pelaku berinteraksi dengan orang lain, bagaimana cara pelaku menentukan lokasi kejahatan dan korban, perkembangan modus operandinya, usia, kemampuan intelektual, transportasi yang digunakan saat kejahatan, serta motif. Contoh: Luka tikaman bertubi-tubi biasanya diasosiasikan dengan motif dendam atau kemarahan. Keadaan TKP yang berantakan dan banyak barang bukti biasanya membuktikan bahwa pelaku masih amatir atau termasuk ke tipe disorganized. Ketidakmampuan untuk melakukan kejahatan yang rapi, bersih, dan terencana juga bisa membuktikan bahwa pelaku belum dewasa, atau memiliki intelegensi yang rendah. Jadi inget kasus kopi sianida, dilihat dari sulitnya menemukan barang bukti di TKP (buktinya hanya segelas kopi yang sudah dicampur sianida), menandakan bahwa pelaku adalah orang yang benar-benar cerdas
  3. Pendekatan Klinis, ini adalah penggunaan psikiater dan/ atau psikolog sebagai pihak ketiga yang memberikan evaluasi apakah si pelaku mengalami gangguan mental atau abnormalitas psikologis lainnya. Hal ini pernah dilakukan kepada Jessica Kumala Wongso, tersangka kasus kopi sianida.
  4. Pendekatan Tipologi, Pendekatan ini untuk melihat karakteristik yang spesifik di Tkp, yang kemudian di ketegorisasi berdasarkan tipe-tipe yang ada. Ada dua tipe yaitu Organized dan Disorganized
     
    Nah itu beberapa gambaran apa itu Criminal Profiling dalam K-drama Signal. Di beberapa episode dalam K-drama ini banyak menceritakan bagaimana Park Hae Young mengungkap kasus yang lebih sulit dan hampir membahayakan nyawanya pada saat melakukan penyelidikan kasus dingin. Kalo kalian suka jenis film yang bergenre Thriller bertemakan kriminalitas, ini bisa jadi K-drama yang direkomendasikan, terutama buat mahasiswa hukum...hehehehe

    Salam Hangat

    Mumut Muthoah

Komentar

Postingan Populer