Review K-Movie Hope/Wish/ So Won ( Film 2013): Kisah pilu seorang anak korban sexsual abuse
STORYLINE:
Korean Movie yang berjudul Wish/Hope/ So Won, film yang mengangkat tema child sexsual abuse. Menceritakan tentang seorang anak bernama So-Won berumur 8 tahun yang menjadi korban pemerkosaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh seorang mantan narapidana yang sebelumnya dihukum atas kejahatan serupa atau dikenal dengan sebutan Residivis. Kejadian tersebut terjadi pada saat So Won akan berangkat ke sekolah. So Won ditemukan dalam keadaan kritis dengan kondisi tubuh yang mengenaskan. Bagaimana tidak, wajah nya penuh luka sayatan, anusnya rusak. Bahkan dari kejadian tersebut So Won mengalami cacat permanen, yang mengharuskannya menggunakan anus buatan seumur hidup.
Akhirnya So Won mendapatkan perawatan insentif selama beberapa bulan di rumah sakit. Orang tua dan orang-orang terdekatnya berusaha menyembunyikan identitas So Won kepada media. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kondisi mental So Won, karena apabila identitas So Won terungkap ke media otomatis kondisi mental So Won akan semakin memburuk karena malu. Namun, akhirnya media mengetahui rumah sakit dimana So Won dirawat, kedua orang tuanya berusaha melindungi So Won dari sorotan media. Dalam penyelidikan Polisi sulit mengidentifikasi pelaku pemerkosaan dikarenakan dalam penyelidikan polisi hanya menemukan sidik jari pelakunya saja. Kurangnya bukti membuat polisi sulit mendapatkan surat perintah penangkapan, satu-satunya jalan untuk menemukan pelaku adalah dengan mendapatkan kesaksian dari So Won. Dibantu oleh seorang terapis dan polisi, So Won akhirnya menunjukan siapa pelakunya. Dengan ditangkapnya si pelaku, permasalahan yang dialami So Won belum selesai. So Won harus menghadapi pengalaman traumatik di usianya yang masih sangat muda.
REVIEW
Satu lagi K-Movie yang telah sukses membuat aku
menghabiskan banyak tissu dan banjir air mata. Setelah Miracle
in cell no 7, ini adalah drama kedua yang bikin termehek-mehek. Perlu
diketahui, aku pernah nonton film Miracle in cell no 7 bareng
temen-temen kuliah, pada saat mata kuliah etika profesi hukum. Pada saat
itu ruangan kelas dimatikan, suasananya hening, semua mahasiswa fokus
ke layar in focus. Setelah filmnya selesai para mahasiswi pastilah
banyak yang nangis dan yang paling mengejutkan buat aku, bapak-bapak
(FYI, aku ambil kelas sore yang mayoritas bapak-bapak alias udah pada
tua..hahahaha) dan temen-temen cowok yang biasanya macho atau lelaki
banget ikutan nangis, matanya pada merah gitu. Kayaknya mereka berusaha
keras untuk menahan air matanya. Hahahahaha :D
Meskipun film ini bertemakan child sexsual abuse (kekerasan seksual anak), tapi adegan kekerasan tidak ditunjukan secara brutal. Tapi aku sebagai penonton dibuat percaya bahwa So Won mengalami kejadian tersebut. Good Job, untuk sutradara yang menampilkan adegan ini. Cara penceritaan proses penyembuhan So Won juga ditampilkan dengan baik. Mulai dari perawatan di rumah sakit, terapi dengan psikolog, hingga proses persidangan yang harus dilalui So Won sebagai saksi dan korban. Hal yang membuat saya terkesan adalah bagaimana perjuangan orang tuanya dan orang-orang terdekatnya memberikan penanganan pemulihan fisik dan emosional kepada So Won. Pemulihan fisik pastinya dilakukan oleh orang-orang medis, sedangkan pemulihan emosional dilakukan oleh orang tuanya, orang-orang terdekatnya, guru dan teman sekolahnya. Pada awalnya So Won tidak mau bicara dan takut untuk bertemu dengan laki-laki. Bahkan dia tidak mau melihat ayahnya, demi kesembuhan putrinya, ayahnya rela menggunakan kostum 'Kokomong' apabila ia ingin bertemu dengan putrinya. Ada beberapa bagian dalam film ini yang membuat aku terharu, dan itu adalah adegan dimana teman-teman So Won menunjukan empati atas kejadian yang menimpa So Won dengan menempelkan banyak kertas di pintu kaca toko kelontong ibunya. Kertas-kertas tersebut berisi peraturan kelasnya, jadwal pengumpulan laporan, gambar-gambar hasil karya teman-temannya. Hal tersebut dilakukan oleh teman-temannya agar So Won dapat mengetahui informasi di sekolahnya pada saat So Won tidak masuk dan memberikan semangat agar So Won dapat kembali ke sekolah. Adegan lain yang juga cukup membuat terharu adalah ketika persidangan.
Emosi yang muncul dari para karakter film itu bisa tergambar dengan baik. Tidak heran kalau film tahun 2013 ini mendapat banyak sekali
penghargaan, termasuk Best Film di ajang 34th Blue Dragon Film Awards,
mengalahkan film Miracle in Cell No. 7.
Korban sexsual abuse mungkin dapat sembuh dari luka fisik, tapi jarang dari mereka yang dapat sembuh dari luka psikisnya, apabila tidak langsung ditangani. Film ini menyampaikan pesan, bahwa pentingnya peran orang tua dalam mengawasi anak dan pentingnya memberikan edukasi kepada anak agar dapat terhindar dari kejahatan seperti yang diceritakan dalam film ini.
Salam panas kuku alias hangat
Mumut Muthoah



setuju film nya membuat nangis apalagi pas scene ayah nya ngaku ke anaknya kalau dia itu kokomong
BalasHapusgan jangan lupa kunjung i blog saya juga http://reviewfilmdanpengetahuan.blogspot.co.id/2017/04/shutter-island.html